Ki tambaga,  Syzygium antisepticum (Blume) Merr. & L.M.Perry Sebagai Tanaman Obat

 Sinonim: Acmena grata (Wight) Walp., Calyptranthes aromatica Blume, Caryophyllus antisepticus Blume, Eugenia antiseptica (Blume) Kuntze, Eugenia cuprea Koord. & Valeton, Jambosa aromatica Miq. Termasuk kedalam suku jambu-jambuan (Myrtaceae).

Nama Daerah: Gelam buut (Indonesia), Ki tambaga, Pancal kidang (Sunda), Klis (Jawa).

Ki tambaga, Syzygium antisepticum (Blume) Merr. & L.M.Perry orang Sunda menyebutnya Ki tambaga karena batang pohon memiliki warna seperti tembaga. Ki tambaga adalah tanaman berupa  pohon berukuran sedang sampai besar, tinggi bisa mencapai 40 m, diameter mencapai 1 m. Tanaman ini terdapat di daerah pegunungan terutama pada ketinggian antara 1400 – 1700 m dpl. Kayunya berat, padat, keras dan tahan lama, strukturnya halus, berserat halus, coklat, coklat merah-gading hingga rona jingga (K. Heyne, 1987). Permukaan kulit kayu berwana merah tembaga, mengelupas, tipis seperti kertas. Daun berbentuk bulat telur, 3-8 cm x 1-4 cm, berpasangan, tunggal; daun tua hijau gelap, mengkilat; daun muda pink atau merah pucat; tangkai daun panjang 3-4 mm. Perbungaan terminalis, keputih-putihan; tangkai bunga panjang 6 mm. Buah bundar, diameter 10 mm, keputih-putihan, merah sampai ungu.  Ki tambaga terdistribusi dari Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. (R.H.L.J. Lemmens, I. Soerianegara,  dan W.C. Wong, 1995). Dilansir dari Useful Tropical Plants dalam http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Syzygium+antisepticum, Ki tambaga terdistribusi dari Asia Tenggara, sebelah timur laut India, Andaman dan Kepulauan Nicobar, Myanmar, Thailand, Kamboja, Malaysia, Indonesia, dan Filipina. Ki tambaga merupakan tanaman dari daerah tropik, namun dapat juga tumbuh di daerah subtropik.

Manfaat: Kayu untuk bahan bangunan, kulit kayu untuk pewarna hitam (R.H.L.J. Lemmens, I. Soerianegara,  dan W.C. Wong, 1995). Kayu tahan dari jamur dan rayap; mudah dikerjakan dengan peralatan biasa; kayu digunakan untuk alat-alat musik, mebelair, gagang, kapal laut, dan lantai. Tannin yang dihasilkan dari kulit kayu digunakan untuk menguatkan jaring ikan dan pewarna coklat kemerahan atau hitam untuk pakaian (Useful Tropical Plants). Daun muda dapat dimakan sebagai lalapan dalam bentuk segar atau dimasak terlebih dahulu. Menurut https://www.jaycjayc.com/syzygium-antisepticum-shore-eugenia/#.XW4Y0HsxXIU, Ki tambaga mengandung kegunaan obat untuk kesehatan; memiliki kandungan tinggi antioxidant. Hal tersebut akan membantu mencegah  stres oxidatif (keadaan di mana jumlah radikal bebas di dalam tubuh melebihi kapasitas tubuh untuk menetralkannya) dan keluhan-keluhan lain, termasuk gangguan pencernaan dan perut.

Dalam Jurnal Ethnobiology and Ethnomedicine yang berjudul Traditions and plant use during pregnancy, childbirth and postpartum recovery by the Kry ethnic group in Lao PDR  dilansir dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles, menyatakan bahwa air rebusan dari bagian dalam kulit Syzygium antisepticum atau Ki tambaga digunakan untuk pemulihan pasca melahirkan (postpartum recovery) fase 1 dan 2, demam nifas, kurang darah (anemia), kehilangan darah, dan kelemahan.

Dilihat dari penampakan fisiknya, Ki tambaga memiliki daun muda berwarna coklat muda kemerahan atau pink yang indah, bisa digunakan sebagai tanaman hias; penghias pada pengarah jalan atau ditanam di tepian kolam, dan di taman-taman umum.

Perbanyakan: Pohon Ki tambaga dapat diperbanyak dari biji dan akan lebih baik daya tumbuhnya bila diambil dari biji yang matang dan langsung disemai.

Koleksi: Tanaman Ki tambaga di Kebun Raya Cibodas telah ada sejak tahun 1985. Kebun Raya Cibodas sampai dengan saat ini telah mengoleksi Ki tambaga sebanyak 28 spesimen yang berasal dari Sumatera Barat, Jambi, Lampung, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Nusa Tenggara Timur; ditanam tersebar di 10 vak, yaitu di vak I.K., II.D., III.E., VII.C., VIII.B., VIII.C., IX.A., IX.B., XVIII.A., dan XIX.C.

Nanang Suryana

Pranata Humas BKHH